Sabtu, 17 September 2016

wanita pemberontak.

Coretan malam kelam sepi. 


Disunyi senyap hampir tidak ada desir suara mausia tertawa, hanya desir angin yang terdengar.
Bukan karena aku tuli tapi saja hanya memang itu yang dapat aku dengar.
Puing puing runtuh masa lalu, rasanya ingin kubuang dan tak ingin aku ingat. Pahit memang masa remajaku dihabiskan dalam kungkungan tembok beton yang memenjaraiku dari sudut demi sudut keindahan bumi.
Ya aku tau, mungkin saja orangtua ku terlalu khawatir karena memang dari dulu jiwa pemberontaku belum hilang. Takutnya diluar rumah mungkin mereka fikir aku hanya akan mengacaukan saja, pikirnya.
Aroma masa kecil yang kurang mengenakan setelah kupikir memang pantas saja jiwaku memberontak dengan apa saja yang tak sesuai dengan keinginanku, ternyata aku tumbuh dan ditumbuhkan dengan ambisius tinggi dan terkadang harus sesuai dengan apa yang aku mau terlihat harus perfeksionis.
Nilai nilai rapotku haruslah nampak masuk dikalangan 5besar sejak kecil kebiasaan itu memang seperti itu adanya, ada perasaan kecewa marah dan takut jika halyg tidak diinginkan terjadi jika saat pembagian rapot nilaiku tidak memenuhi peringkat atas.

Sampai pada akhirnya usia ku menginjak 20an akupun masih mati matian mengejar nilai untuk membanggakan sedikit senyum hati kedua malaikatku.
Namun disisi lain, sejak kecilpun aku suka berjalan kaki bermain ke sungai, bukit, mancing sampai kulit menghitam bersepeda kesana kemari padahal anak perempuan yang harusnya ada dirumah sama halnya kakak perempuan saya yang memang dari kecil tidak berhasrat berpetualang sepertiku
Dari kecil memang aku susah dirumaj menclak menclok kemari tidurpun jarang dirumah pastilah ada dorumah saudara yang aku singgahi, tapi beranjak dewasa kungkungan tembok itu menyelimuti aku. Membuatku takut tidak bisa bermain seperti dulu.
Sejak saat itu aku mulai disibukan dengan rutinitas yang padat, sekolah dari pagi sampai sore hari lalu dilanjutkan dengan les sampai malam hari begitu terus sampai kelas 3 sma dan akupun membuang jauh rasa ingin tahuku terhadap alam liar yang aku inginkan. Dan lebih mementingkan akademik yang malaikatku harapakan.
Namun ternyata...
Kenyataan berkata lain, universitas negeri yang aku harapkan nyatanya tidak disetujui walaupun aku tanpa test lolos dan hanya membawa nama beserta diri kesalah satu PTN di bogor. 
Yasudahlah pupuslah semua keinginanku, harapanku..
Berada dititik runtuh remuk redam entah apa yg aku bisa wujudkan untuk para malaikatku, namun mereka memberiku semangat tanpa putus..
Dan dengan setumpuk waktu serta berhari hari memikirkan akan dibawa kemana masa depan ku.
akhirnya orangtuapun menunjukan jalan yang sekarang saya jalani.
 Dan tidak jauh berbeda sama halnya merawat yang membedakan adalah siapa yang dirawat. Pekerjaan yang mulia namun sangat beresiko apalagi aku seorang wanita, namun bukan ade namanya jika tidak menyukai tantangan dan darah petualang dan pemberontak itulah yang membakar semangat untuk kembali bangkit dari remuk reruntuhan kegagalan. Profesiku saat inipun sangat aku cintai. Awalnya akupun bertanya tanya saat melalukannya.. "kok kerjaan saya gini yaa, loh ngapain saya begini kaya gada kerjaan lain aja.." belum ikhlas sepenuhnya toh hati menjalani profesi ini, ngedumel ceunah.
Tapi ternyata mindset aku salah, bahkan salah besar. Sebuah profesi yang saya jalani ternyata.. MasyaAllah luarbiasa mulianya membantu orang yang sakit untuk kembali sembuh bahkan yang sehatpun di berikan pendidikan istilahnya dirawatpun juga. Makin cinta dan bangga deh sama profesi ini.
Sejak mengenal bangku perkuliahanpun akhirnya tidak disangka dan di nyanga, seseorang yang mengenalku kembali kepada alam membangkitkan lagi jiwa petualang yang telah lama tidur dalam jiwa ini kembali hidup. Dia orang yang paling aku takuti setelah kedua. Malaikatku, ya dia seseorang yang aku anggap istimewa karena dia orang pertama dan yang berani menaklukan si gadis pemberontak berubah melunak walaupun masih sekeras baja. 
Perjalanan setiap petualangan memberikan pesan dan kesannya yang kehilangan kembali memuncak, dan aku takut jika keremuk redaman reruntuhan terdahulu akan kembali membayangiku.
Kegagalan yang pernah aku alami membuatku harus lebih berhati hati, pun tak di sangka semoga orang yang mengajariku dari segala jenis bentuk ilmu dan pembelajaran baik di alam terbuka ataupin akademis senantiasa diberikan kesehatan serta selalu diberikan kesabaran yang berlimpah untuk tetap melunakan wanita pemberontak. Ini sebagian kecil potongan kebahagiaan yang melimpah untuk saya, semoga Allah senantiasa menjaga orang orang yang saya cintai dan yang mencintai saya..